KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
KARAKTERISTIK
PESERTA DIDIK
By: Mala Azizah
Dosen Pengampu: Farninda Aditya, S.Pd.,M.Pd
Peserta
didik merupakan suatu organisme yang sedang tumbuh dan berkembang. Setiap dari
peserta didik memiliki potensi masing-masing seperti bakat, minat, kebutuhan
dan lain-lain. Oleh karena itu para peserta didik butuh dan perlu dikembangkan
memalui pendidikan dan pengajaran, sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Dalam
era modern ini di bidang pendidikan, perbedaan karakteristik peserta didik
perlu dipertimbangkan dan diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar. Maka
dari itu, setiap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah harus sesuai
dengan karakteristik, gaya belajar, dan kecerdasan masing masing peserta didik.
A. Pengertian
Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik
berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan
yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Menurut Moh. Uzer Usman (1989)
Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta
nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih
konsisten dan mudah di perhatikan.
Menurut
Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan
kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan
sosialnya. Anak hidup dan dibentuk dalam lingkungan yang beragam. Goldin–Meadow
(2008) menyebutkan bahwa lingkungan akan mempengaruhi anak dalam berbagai
dimensi. Diantara pengaruh yang jelas dan dapat diobservasi adalah bagaimana
seorang anak berkembang dan belajar dari lingkungan.
Untuk
itu, dalam proses pendidikan modern, anak didik tidak dipandang sebagai obyek
pembelajaran, tetapi anak didik adalah subyek pembelajaran. Sebagai subyek
pembelajaran, anak menjadi pusat pembelajaran. Anak didik berada dalam fase
yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Untuk mengarahkan fase-fase
tersebut, anak didik perlu mendapat bantuan dari para tenaga pendidik, termasuk
orang tua bahkan masyarakat. Banyak pakar Pendidikan telah menjelaskan tentang
hakekat anak didik dan kemampuan potensial yang dimiliki anak.
Menurut
Conny R. Semiawan, manusia belajar, tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang
diperolehnya. Setiap anak dilahirkan dengan perbedaan kemampuan, bakat dan
minat. Berbagai perbedaaan tersebut merupakan faktor yang ikut mempengaruhi
prestasi belajar anak. Untuk itu anak diberikan kesempatan mendapatkan apa yang
diinginkan sehingga anak dapat berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan
kemampuan, bakat dan minatnya masing-masing. Perbedaan-perbedaan tersebut harus
diperhatikan (Cony Semiawan, R. 2002) Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya
bahwa peserta didik memiliki karakteristik terdiri. Ia berbeda antara satu dan
lainnya. Peserta didik kembar identik pun memiliki perbedaan, meskipun ia
memiliki banyak kesamaan.
Untuk
mengetahui karakteristik peserta didik ini, pendidik harus memahami dan
menguasai teori-teori psikologi seperti psikologi belajar, psikologi pendidikan,
psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, dan berbagai pendekatan lain
yang dapat memaksimalkan perhatian terhadap peserta didik. Salah satu tugas
yang perlu dilakukan guru sebelum melaksanakan pembelajaran adalah mengetahui
karakteristik anak didiknya. Ini penting dilakukan untuk memudahkan guru
melaksanakan pembelajaran.
Dengan
demikian, indikator utama keberhasilan poses pembelajaran anak pada perspektif
ini adalah behavioral changing. Perubahan-perubahan yang terjadi pada anak
dapat diobservasi oleh guru secara berkesinambungan. Namun beberapa kelemahan
mendasar pada pandangan ini di antaranya, guru agak kesulitan dalam memahami emosi,
penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan berfikir kritis.
Perubahan
yang mudah diamati merupakan perubahan yang ditampakkan dalam perbuatan
(fisik-psikomotorik anak). Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis lebih
sulit diamati. Di samping itu, pandangan behaviorisme lebih mementingkan
keseragaman (unifikasi) di kelas. Padahal unifikasi behavioristik anak sulit
terjadi, karena setiap anak memiliki perbedaan baik perbedaan natural maupun
nurture.
B.
Hal-hal
penting yang perlu diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik, yaitu:
1. Membangun
komunikasi verbal Komunikasi verbal perlu dilakukan pada setiap kesempatan
dalam proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Komunikasi
verbal diakukan dengan melibatkan peserta didik secara langsung. Pelibatan
peserta didik dilakuka dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan interaktif yang
beragam, namun pertanyaan-pertanyaan tersebut masih dalam lingkup partisipasi
peserta didik dalam proses pembelajaran.
Sebagai catatan penting, komunikasi verbal
dapat efektif apabila peserta didik dipandang sebagai subyek, bukan obyek
pembelajaran. Secara fungsional, komunikasi verbal dapat mengkonstruksi elemen
hubungan psikologis, di samping mengembangkan harmonisasi batin anatara
pendidik dengan peserta didik. Hubungan psikologis dan harmonisasi batin
pendidik dengan anak didik tidak akan mungkin diperoleh pada komunikasi
nonverbal.
Atas dasar hubungan tersebut, komunikasi
verbal juga dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam proses pembelajaran,
khususnya ketika pendidik berhadapan dengan peserta didik yang termasuk dalam
kategori “agak nakal” Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab anak didik
menjadi “agak nakal” seperti; [1] mental anak belum stabil; [2] dominasi faktor
lingkungan; [3] keadaan lingkungan keluarga tidak kondusif; [4] pengaruh teman
sebaya; dan [5] faktor bawaan.
2. Menjadi
figur yang Figur yang baik akan menjadi teladan bagi peserta didik. Keteladanan
dalam bersikap, berkata, dan berkomunikasi yang baik dapat dilakukan dengan
menjadi pendengar yang setia atau siap mendengar keluh kesah anak didik.
Seorang figure yang baik umumnya memahami karakteristik peserta didik dengan
beberapa cara. Di samping itu guru perlu mengedepan Teknik mengajarseperti; [1]
formal tetapi tidak kaku; [2] bercanda tapi tidak berlebihan; [3] belajar di
luar kelas (outdoor); [4] makan minum dibolehkan tetapi harus tertib; dan [5]
proporsional dalam tanya jawab. Bila teknik-teknik ini dilakukan dengan serius,
maka guru dapat memotivasi dan sekaligus meningkatkan kemampuan siswa dalam
belajar, dan bahkan rasa betah (tidak mudah bosan) dalam proses pembelajaran
akan semakin timbu.
3. Berhati-hati
dalam menyimpulkan karakter peserta didik Pendidik perlu bersikap hati-hati
dalam mengambilkan sebuah kesimpulan, apalagi kesimpulan tersebut mengarah pada
upaya memahami karakter peserta didik. Tenaga pendidik menghadirkan semua
potensi dan memberikan respon secara bijak untuk mengoptimalisasi pemahaman
terhadap karakter secara komprehensif.
4. Mengenal
tanda-tanda keanehan peserta didik Tanda-tandan yang dimaksud disini adalah
tanda fisik maupun non fisik. Pada dasarnya tidak ada sesuatu yang dianggap
aneh, tapi yang ada adalah keunikan karakteristik. Fenomena sikap peserta didik
perlu disikapi dengan memperhatkan karakter personal dan kelompok anak dalam
proses pembelajaran.
5. Bersifat
terbuka Bersikap terbuka menjadi sikap penting dimiliki oleh pendidik. Bersikap
terbuka pada peserta didik berarti memberikan peluang secara luas untuk
memahami karakter anak.
Dengan sikap terbuka,
pada umumnya anak didik akan bersikap terbuka pada pendidik. Anak didik
memerlukan perhatian dari pendidik baik dalam kelas maupun di luar kelas.
Karakter yang dimiliki anak beragam. Keragaman itu tentu menentukan cara, dan
pendekatan tenaga pendidik dalam proses memahami sifat dan karakter anak.
Menurut Janawi, yang terpenting dipahami guru sebenarnya adalah bagaimana
memahami dunia anak, karakteristik anak, dan proses pendidikan anak. Setiap
anak memiliki persaman dan perbedaan. Periodesasi pertumbuhan dan perkembangan
anak perlu dipahami guru secara totalitas (Janawi, 2009). Yang terpenting
adalah anak menjadi pusat perhatian.
C. Indikator Penting Karakteristik
Peserta Didik
Sebagaimana telah diulas sebelumnya, bahwa peserta
didik memiliki karakteristik tersendiri. Potensi yang dimiliki peserta didik
dapat dikembangkan apabila tenaga pendidik dapat memahami perbedaan-perbedaan
tersebut. Walaupun Dalam sistem Pendidikan nasional, sistem klasikal masih
menjadi ciri utama, namun tuntutan untuk memahami karakter dan perbedan potensi
anak semakin dituntut. Proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila
guru mampu memahami karakter anak dengan dengan baik.
1.
Karakter penting yang perlu dipahami
dalam proses pembelajaran diantaranya adalah, Mengidentifikasi karakter fisik
dan non fisik anak didik di kelas. Anak merupakan individu yang masih dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mengarah pada fisik, sedangkan
perkembangan mengacu pada fungsi-fungsi organ dan non fisik. Karakter fisik
merupakan sesuatu ciri yang mudah diamati, seperti ciri-ciri fisik (keadaan
kaki, mata, tangan, berkemampuan khusus, dan lainnya). Dalam proses
pembelajaran, tenaga pendidik tidak boleh melalaikan unsur tersebut. Karena
unsur itu akan berimplikasi pada pengelolaan kelas yang pada akhirnya berdampak
pada pencapaian tujuan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selalu
linear. Pada beberapa kasus, pertumbuhan dan perkembangan mengalami
keterlambatan atau ketidakseimbangan, seperti sosio emosional anak.
2.
Mengidentifikasi karakteristik
belajar setiap peserta didik di kelasnya. Anak memiliki karakteristik
tersendiri dalam belajar. Karakteristik ini tidak lepas dari beberapa hal
seperti bakat, minat, lingkungan anak, gaya belajar, intlegensia anak, dan
lainnya.
3.
Memastikan semua peserta didik
mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam paradigma Pendidikan modern, guru bukan lah “pengajar”,
tetapi guru adalah fasilitator dan motivator. Pendidik profesional harus mampu
memberi peran besar sebagai fasilitator. Tenaga pendidik memberikan kesempatan
yang sama kepada anak didik, agar anak didik dapat berpartisipasi secara
maksimal dalam proses pembelajaran.
4.
Mengatur kelas untuk memberikan
kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan
kemampuan belajar yang berbeda. Mengatur kelas berkaitan dengan pengelolaan
kelas. Beberapa hal yang penting diatur seperti : a. Tempat/posisi duduk anak.
Tempat duduk perlu disesuaikan dengan keadaan fisik maupun nonfisik anak.
Contoh, ukuran tinggi badan anak bila kelas menggunakan sistem deret,
penglihatan anak, pendengaran anak dan lainnya. b. Penerangan kelas c.
Mobilitas pendidik d. Posisi media pembelajaran.
5.
Mencoba mengetahui penyebab penyimpangan
perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan
peserta didik lainnya. Anak memiliki karakter perilaku yang berbeda.
Penyimpangan perilaku tidak dianggap sesuatu yang aib. Bila ada tanda-tanda
penyimpangan perilaku, maka pendidik mengupayakan melakukan konseling terhadap
anak. Bahkan pendidik dan pihak sekolah haus mengupayakan melakukan upayaupata
dan pendekatan psikologis. Pemantauan dan kontrol dilakukan secara terus
menerus.
6.
Membantu mengembangkan potensi dan
mengatasi kekurangan dan keterlambatan pemahaman peserta didik. Anak memiliki
perbedaan potensi. Potensi yang dimaksudkan disini dapat berupa kecenderungan
minat, bakat, dan keterlambatan dalam merespon pembelajaran. Kelemahan
pembelajaran sistem klasikal adalah agak lamban merespon perbedaan-perbedan
individual. Untuk mengetahui anak lebih awal perkembangan anak, pendidik dan
pihak sekolah dianjurkan bekerjasama dengan pihak-pihak tertentu untuk
mengetahui sedini mungkin potensi-potensi yang dimiliki anak. Pihak-pihak
tersebut diantaranya adalah psikolog. Test-test psikologis dianggap penting untuk
mengetahui keadaan anak.sehingga pendidik dan sekolah dapat memberikan
pendekatan yang mampu memaksimalkan proses pembelajaran.
7.
Memperhatikan peserta didik dengan kelemahan
fisik tertentu agar dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta
didik tersebut tidak termarginalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb). Anak
memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran. Kelemahan fisik bukan
menjadi alasan pembelajaran. Kelemahan fisik atau keterbatasan fisik anak tentu
menuntun cara, metode, strategi dan bahkan pendekatan yang akan dilakukan dalam
pembelajaran.
Menguasai karakteristik
peserta didik berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kondisi anak
didik. Anak dalam dunia pendidikan modern adalah subyek dalam proses
pembelajaran. Anak tidak dilihat sebagai obyek pendidikan, karena anak
merupakan sosok individu yang membutuhkan perhatian dan sekaligus
berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
Anak juga memiliki
karakteristik tersendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya baik dari segi
minat, bakat, motivasi, daya serap mengikuti pelajaran, tingkat perkem- bangan,
tingkat inteligensi, dan memiliki perkembangan sosial tersendiri. Kedua bidang
keilmuan tersebut menjelaskan secara transparan tentang anak dan tahaptahap
perkembangannya. Tiap tahap perkembangan, anak memiliki karakteristik tertentu
yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Di sinilah pentingnya, menguasai
kedua bidang keilmuan tersebut.
Di samping itu, dalam
proses belajar mengajar, anak menjadi fokus perhatian guru dan sekaligus
menjadi individu yang ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dalam
proses pembelajaran, anak didik menjadi pusat perhatian. Anak didik ingin
menjadi manusia seperti tujuan pendidikan itu sendiri.
Tujuan
manusia yang diinginkan seperti tergambar dalam tujuan pendidikan harus sesuai
dengan gambaran tentang anak. Disinilah letaknya, seorang guru dibutuhkan
mempelajari psikologi baik psikologi pendidikan, psikologi perkembangan maupun
psikologi belajar.
Anak
memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Perbedaan karakteristik membutuhkan perhatian dan pendekatan yang berbeda.
Walaupun sistem pendidikan masih menerapkan sistem klasikal, namun guru
dituntut untuk memberikan perhatian tertentu pada anak didiknya dalam proses
pembelajaran. Di satu sisi guru memberikan perhatian kepada seluruh anak yang
ada dalam proses pembelajaran di kelas, di sisi lain guru harus memberikan
perhatian khusus pada anak-anak tertentu.
Oleh
karena itu seorang pendidik harus bisa mengetahui karakteristik dari peserta
didiknya, karena semua peserta diidk memiliki masing-masing karakter yang
berbeda-beda. Jika ada kelamahan atau kekurangan dari peserta didik itu bukan
penghalang dalam kegiatan proses belajar mengajar karena kekurangan dapat di
jadikan keunikan dari peserta didik tersebut.
REFERENSI
Hani Hanifah , Susi
Susanti, Aris Setiawan Adji, Perilaku dan Karakteristik Peserta Didik
Beradasrkan Tujuan Pembelajaran, Manazhim : Jurnal
Manajemen dan Ilmu Pendidikan Volume 2, No,1 Februari 2020; 105-117 https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/manazhim
Janawi, Memahami
Karakteristik Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran ,Vol. 6, No. 2, 2019,
Hal. 68 – 79.
Komentar
Posting Komentar